Kita bisa memaklumi jika ada tuntutan agar rakyat tetap beraksi masif untuk keperluan menjustifikasi langkah politik tertentu. Karena itu, bisa saja rakyat tetap diminta aktif beraksi. Aksi masif juga relevan jika DPR dan Pemerintah lebih mengutaman agenda politiknya, dibanding mempedulikan suara rakyat. Namun tetap saja, jika nilai moral/etika, Pancasila, UUD NRI 1945 dan suara nurani dikedepankan, maka tanpa aksi rakyat pun mestinya para pemimpin partai dan Presiden Prabowo harus segera memakzulkan Gibran.
Peran Presiden Prabowo sangat penting, strategis dan menentukan. Maka, untuk memutus praktik politik amoral Gank Solo yang sudah menjungkirbalikkan tata kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat butuh radical break. Indonesia sangat membutuhan radical break atas politik amoral, yang salah satu hasilnya adalah “Wapres” Gibran. Maka, kita menuntut Presiden Prabowo berada di garis depan proses pemakzulan Gibran. Kita tidak berharap Presiden Prabowo hanya memantau atau omon-omon dari kejauhan, tetapi menjadi pelaku utama radical break untuk memulihkan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana mestinya.[]
Marwan Batubara, GMKR
Jakarta, 27 Oktober 2026


















































































































Komentar Terbaru