UPDATE

OPINI
OPINI

Ketika Bintang di Langit Bertaburan di Panggung Politik

Inilah mengapa partai politik lain sudah mulai berupaya keras melakukan koalisi untuk dapat memenuhi ambang batas pencalonan presiden, dan para artis yang bergabung di dalamnya sebagai daya tariknya. Ketika koalisinya besar dan banyak nama tenar yang dikenal masyarakat harapannya mampu mendulang suara juga lebih banyak. Di akhir, tujuannya adalah kemenangan.

Demokrasi Hanya Lahirkan Pemimpin Pragmatis dan Oportunis

Meski masih banyak rakyat yang tertipu dengan manuver usang demokrasi ini namun kesadaran bahwa koalisi itu sia-sia, melanggengkan kekuasaan zalim dan tergabungnya artis hingga komedian dalam koalisi mereka hanya memperburuk keadaan juga tak kalah banyak.

Bahkan hal ini dipertanyakan oleh Hakim MK Daniel Yusmic Pancastaki Foekh saat kembali menggelar sidang gugatan UU Pemilu terkait sistem pemilu proporsional terbuka dengan nomor perkara 114/PUU-XX/2022 di Gedung MK, Jakarta, pada Senin, 15 Mei 2023. Ada tiga ahli dihadirkan yakni Khairul Fahmi, Titi Anggraeni dan Zaenal Arifin Mochtar. Hakim Daniel menanyakan kepada salah satu ahli yang hadir memaparkan materi pada saat itu, “Ada sebuah persoalan disinggung Pak Zaenal terkait finansial, apa yang disampaikan Pak Arifin sejak pendaftaran di KPU, hampir semua parpol butuh publik figur, apa dia artis atau finansial,” ucap Daniel.

“Persoalannya apakah kehadiran publik figur ini menyulitkan pengurus parpol atau mereka yang selama ini kerja di parpol karena kekurangan finansial? Atau bukan karena dia publik figur kemudian sulit untuk mendapat suara di sistem pemilu yang membutuhkan anggaran cukup besar. Apakah di situ titik krusialnya?” tutur Daniel.

Hakim Arief Hidayat juga sedikit menyinggung fenomena artis yang nyaleg. Ia meminta pendapat ahli untuk menjelaskan fenomena ini dengan kaitannya terhadap sistem pemilu. ‘Kalau kita lihat pendaftaran sudah muncul, ini beberapa ada hal gini, banyak artis masuk, dievaluasi mass media, partai ini artis baru, muncul partai ini, semua partai memunculkan tokoh bisnis jadi calon yang sebelumnya tidak ada jejak di parpol, fenomena ini bagaimana? Apa yang tidak menjadi pedulang suara? Kaderisasi di parpol tidak bisa dipertanggungjawabkan? atau mereka yang selama ini kerja di parpol karena kekurangan finansial? ” Tanya Hakim Arif.

Demikian pula dengan Hakim Saldi Isra juga ikut menanggapi fenomena artis nyaleg. Menurutnya fenomena ini sudah tidak bisa dielakkan karena seluruh parpol melakukan hal yang sama.”Fenomena loncat orang tiba-tiba entah dari mana asalnya tiba-tiba diajukan partai politik dan itu hampir seluruh parpol menjadi pelaku melakukan hal yang sama, ambil orang terkenal tiba-tiba diajukan calon dan kader yang berdarah-darah di partai ditinggalkan gitu aja,” kata Saldi.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.