UPDATE

SEJARAH

Mengenang Zakaria bin Muhammad Amin: Ulama dan Tokoh Pejuang Riau

BANDA ACEH – Zakaria bin Muhammad Amin dilahirkan pada 7 Maret 1913 di Bangkinang, Kabupaten Kampar, sebagai putra sulung dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Amin dan Taraima.

Ia memiliki dua orang saudara kandung laki-laki bernama Hasyim dan Ahmad. Zakaria juga memiliki seorang saudara tiri laki-laki bernama Ahmad Sanusi dan dua orang saudara tiri perempuan bernama Siti Maryam dan Syarafiah dari pernikahan kedua ayahnya.

Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang pakaian jadi selama setiap hari di pasar yang berpindah-pindah tempat dari suatu desa ke desa yang lain di sepanjang Jalan Riau-Sumatera Barat. Mereka mempunyai sekandang kerbau sebagai binatang ternakan yang digembalakan pada pematang sawah yang mereka miliki. Di pematang sawah inilah Zakaria menghabiskan masa kecilnya dengan membantu kedua orangtuanya menjaga dan menggembalakan ternak yang ada.

Pada tahun 1920, tepatnya pada usia tujuh tahun, Zakaria menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (Volks School) di Bangkinang yang hanya ditempuhnya hingga kelas tiga karena tidak berminat. Ia menganggap pada waktu tersebut bahwa ilmu keagamaan lebih bermanfaat untuk dipelajari daripada ilmu sains. Melihat minatnya yang begitu besar pada bidang keagamaan, maka pada tahun 1923 dalam usia 10 tahun, Zakaria dibawa oleh pamannya, Abdullah, dan bibinya, Fatimah, untuk menunaikan ibadah haji di Mekah. Perjalanan ke Mekah pada waktu tersebut masih menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat, dan cukup melelahkan karena kapal KLM milik pemerintah Hindia Belanda itu banyak dan sering singgah di sejumlah pelabuhan yang termasuk daerah koloninya, sehingga perjalanan tersebut memakan waktu dari tiga hingga empat bulan.

Di Mekah, Zakaria bersama dengan pamannya banyak berkenalan dengan para jamaah haji asal Malaya Britania. Sambil menunaikan rukun haji, mereka juga mempelajari ilmu keagamaan dengan para syekh yang terkenal di sana, di antaranya Ali Al-Maliki, Syekh Umar Al-Turki, Umar Hamdan, Ahmad Fathoni, dan Syekh Muhammad Amin Quthbi. Bersama para jamaah haji dari berbagai negara, Zakaria duduk bersimpuh mengerumuni guru membuat lingkaran untuk belajar atau mengaji ilmu keagamaan setiap selesai salat wajib. Ilmu yang dipelajari olehnya di antaranya ilmu Al-Quran, tafsir, hadits, mustolah hadits, tauhid, balagah, dan qonafi (ilmu tentang syair Arab). Zakaria dengan diantar oleh paman dan bibinya langsung menetap di Malaya Britania untuk menambah pelajaran ilmu keagamaannya karena pada waktu tersebut Malaya Britania merupakan daerah yang cukup terkenal sebagai daerah yang taat dalam pelaksanaan ajaran agama Islam. Sanad keilmuannya menyambung kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang pernah menjabat sebagai imam mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Beliau juga merupakan guru dari Syekh Ahmad Dahlan (pendiri dari Muhammadiyah) dan Hasyim Asy’ari (pendiri dari Nahdlatul Ulama).

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.