Pada tahun 1937, setelah kembali dari Perak, Zakaria bersama dengan Tuan Guru Haji Ahmad mendirikan Pondok Pesantren Al-Khairiyah, sebuah sekolah formal pertama di Bengkalis dengan sistem klasikal. Lokasi dari Al Khairiyah ini berada di Jalan Sultan Syarif Kasim yakni di lokasi bekas Panti Asuhan Dayang Dermah. Lahan lokasi ini merupakan milik dari Abdul Rahman. Selain dari Bengkalis, murid yang belajar di Al-Khairiyah berasal dari berbagai daerah. Zakaria mengajar di sekolah tersebut selama enam tahun tanpa mendapat imbalan sama sekali. Ketika penjajahan Jepang masuk ke Bengkalis pada tahun 1943, Al-Khairiyah ditutup dan para murid dikembalikan ke daerah asal mereka masing-masing.
Menjelang kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Zakaria termasuk tokoh yang selalu mempropagandakan kemerdekaan Indonesia kepada para muridnya dan masyarakat umum. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membangkitkan semangat juang para masyarakat Bengkalis pada waktu tersebut. Ia juga giat membangkitkan semangat rakyat bersama dengan Abdullah Nur dengan tema hubbul wathan minal iman (mencintai tanah air itu sebagian dari iman).
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Zakaria aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu. Sebagai pimpinan Laskar Rakyat Sabilillah dan Ketua Badan Perjuangan Rakyat Kabupaten Bengkalis di bawah komando Kapten Iskandar, ia bersama dengan TNI turut serta mengangkat senjata melawan tentara Belanda yang kembali hendak menguasai Bengkalis. Oleh pemerintah republik, Zakaria diajak untuk berpindah ke Dumai dan bergabung dengan Kesatuan Batalyon II/V bagian hubungan masyarakat dan memimpin bagian pergerakan dengan pangkat Sersan Mayor Tituler di bawah pimpinan Kapten Iskandar.
Pada bulan Desember 1949, Zakaria dilantik oleh Bupati Bengkalis yakni Muhammad untuk membantu di bidang keagamaan sebagai kepala pemerintahan di bidang agama Islam. Pada tahun 1950, ia dilantik sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bengkalis yang pertama dan menjabat hingga tahun 1972. Zakaria juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Bengkalis.
Walaupun dalam keadaan perang, Zakaria tetap memberikan pendidikan ilmu keagamaan di antara waktu istirahatnya dengan cara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain di Kelapapati, Pedekik, dan Wonosari. Dalam waktu damai, kegiatan pendidikan ini terus dilaksanakannya walau hanya bertempat di teras rumahnya yang tidak begitu besar.


















































































































Komentar Terbaru