UPDATE

SEJARAH

Mengenang Zakaria bin Muhammad Amin: Ulama dan Tokoh Pejuang Riau

Di daerah Temerloh, Zakaria belajar agama selama enam tahun hingga gurunya Muhammad Saleh meninggal dunia. Kepada Saleh, selain mempelajari pelajaran seperti yang sudah disebutkan di atas, ia juga mempelajari Matan Jurumiyah secara lengkap. Zakaria kemudian berpindah dari Pasir Mas ke Kuala Lipis selama sembilan bulan sampai daerah tersebut direndam banjir pada tahun 1929. Dalam keadaan yang demikian tersebut, Zakaria bersama dengan beberapa orang temannya berangkat menuju Bengkalis dan singgah di tempat guru agama di Masjid Raya Parit Bangkong di bawah pimpinan Tuan Guru Haji Ahmad sekaligus memperdalam ilmu keagamaan dengan dirinya. Selain dari Ahmad dan Zakaria, terdapat juga Muhammad Toha, Muhammad Sidik, dan Muhammad Ismail yang sama-sama mengajar di masjid tersebut.

Zakaria memulai kariernya sebagai pengajar di Masjid Raya Parit Bangkong pada tahun 1929 di usia 16 tahun. Pada tahun 1930, setahun setelah kembali dari Malaya Britania, ia menulis beberapa hal yang menjadi pembicaraan pada waktu tersebut. Di antaranya karangan beliau tentang masalah kunut saat salat Subuh yang diberi judul Balqurramhi fi Sunniyyati Qunut Subhi dan menulis dalam majalah At-Tabib di Cikampek. Pada tahun 1932, Zakaria kembali menulis tentang masalah usholli dalam salat dalam majalah Hidah Benar di Malaya Britania. Pada tahun 1939, ia menulis tentang rakaat salat sunnah tarawih dan menulis kumpulan khutbah Jumat dan hari raya sebanyak dua belas judul khutbah. Menurut Zakaria, masalah khilafiyah ini bukan hanya menjadi pembicaraan di dalam negeri saja melainkan di luar negeri seperti Malaya Britania. Sebagai seseorang yang pernah menuntut ilmu di Mekah dan di Malaya Britania, ia merasa terpanggil untuk menjelaskan masalah di atas sesuai dengan proporsi yang sebenarnya sehingga diharapkan tidak ada tindakan saling menyalahkan dalam masalah itu. Namun, karena kehidupan Zakaria yang berpindah-pindah tempat tinggal pada masa agresi, buku-buku karangannya tersebut sampai sekarang tidak bisa dijumpai lagi. Setelah keadaan kembali normal, ia menulis kumpulan muhadharah untuk anak-anak madrasah dalam bidang fiqih, akhlak, tauhid, dan sebagainya. Buku tersebut kemudian menjadi pegangan para siswanya dalam mata pelajarannya.

Pada tahun 1933, atas saran dari Tuan Guru Haji Ahmad, Zakaria berangkat kembali ke Malaya Britania tepatnya di Bagan Datuk Perak untuk memperdalam ilmu keagamaan Islamnya. Namun, sebelum berangkat, ia menikahi putri dari Ahmad yang bernama Mariah dan dikaruniai tiga orang putra bernama Nashruddin, Azrai’e, dan Syakrani Zakaria, serta empat orang putri bernama Aminah, Zaharah, Ulfah, dan Hanim Zakaria. Pernikahan mereka berakhir dengan kematian Mariah pada bulan Februari 1955.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4 5

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.