“Sebuah amanah yang saya emban bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menjaga warisan perdamaian yang telah kita rajut bersama. Sebagai Wali Nanggroe, saya berkewajiban untuk menjaga kesinambungan adat, sejarah, dan budaya Aceh, serta menjadi pengingat hidup bahwa perdamaian yang kita miliki hari ini adalah hasil dari keberanian di masa lalu,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, perdamaian bukan akhir, tetapi awal dari perjuangan baru, yakni perjuangan untuk keadilan, pembangunan, dan penghormatan terhadap hak-hak dasar rakyat Aceh sebagaimana dijanjikan dalam MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).
“Kita telah mencapai banyak hal. Tapi kita juga harus mengakui masih banyak pekerjaan rumah, mulai dari implementasi butir-butir perjanjian yang belum tuntas, pemenuhan hak-hak korban konflik, dan penguatan lembaga-lembaga lokal agar mampu berdiri tegak dalam sistem otonomi yang bermartabat. Oleh karena itu, momentum 20 tahun ini harus kita jadikan titik evaluasi dan revitalisasi semangat perdamaian,” sebut Wali Nanggroe.
Ia menekankan, perdamaian tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang selesai, namun harus terus dipelihara, ditumbuhkan, dan diperjuangkan di ruang-ruang kebijakan, di ruang publik, dan terutama di hati setiap anak bangsa.
Kepada Pemerintah Republik Indonesia, Wali Nanggroe mengajak dengan penuh hormat untuk merawat komitmen yang telah dibangun bersama. “Implementasi perjanjian damai bukan semata soal administrasi atau politik, tetapi soal menjaga kepercayaan, soal membangun masa depan yang damai dan setara.”
Kepada generasi muda Aceh dan Indonesia, ia berpesan agar menjadi penjaga damai, bukan pewaris luka. Kenang sejarah, hormati pengorbanan para syuhada, tapi majulah dengan visi baru, Aceh yang damai, maju, bermartabat dalam bingkai keindonesiaan yang adil dan demokratis.
Ia juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak—baik dari Aceh, Pemerintah Republik Indonesia, maupun komunitas internasional—yang telah menjaga dan merawat perdamaian hingga hari ini.
“Juga khususnya Crisis Management Initiative (CMI) dan Pemerintah Finlandia, yang memainkan peran penting dalam memfasilitasi proses perdamaian,” kata Wali Nanggroe.
Mengakhiri pernyataannya, Wali Nanggroe mengutip sebuah ungkapan hikmah: “Orang yang paling kuat bukanlah yang mampu menaklukkan musuh, tetapi yang mampu menaklukkan egonya demi perdamaian.”
“Semoga Allah SWT meridhai setiap ikhtiar kita untuk menjaga dan memperkuat perdamaian ini, untuk Aceh, untuk Indonesia, dan untuk dunia,” tutupnya.































































































Beri Komentar