Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) mengikat oligarki tambang, Sri Mulyani menjaga pintu kas negara, Erick Thohir membangun kerajaan BUMN, dan Nadiem Makarim menjadikan pendidikan sebagai pasar neoliberalisme. Tetapi pusaran ini kian kompleks ketika muncul sosok lama: Riza Chalid, oligark minyak yang sejak lama dikenal sebagai “Raja Migas.”
Daftar Isi
Kemarahan Riza Chalid pada 25?”28 Agustus bukan tanpa alasan. Ia merasa terpinggirkan dalam skema energi Prabowo, yang mencoba mengurangi dominasi mafia migas dengan memperluas jalur diplomasi energi keluar dari jejaring lama.
Bagi Mohre, kebijakan ini adalah ancaman langsung terhadap gurita bisnisnya. Kemarahannya menjelma menjadi manuver senyap, menyokong faksi ancient régime untuk mempertahankan pengaruh melalui dinasti Gibran.
Dengan demikian, oligarki tidak hanya menyusun strategi bertahan, tetapi juga melakukan serangan balik lewat jalur energi, media, dan intelijen.
Perang Intelijen: Arena yang Tak Terlihat
Gerakan 25?”28 Agustus juga adalah perang intelijen. Provokator disusupkan, informasi direkayasa, narasi dipelintir. Semua dilakukan untuk menggiring opini dan mengamankan posisi oligarki.
Ada dua poros besar dalam perang ini:
Poros ancient régime, dengan dukungan LBP, Riza Chalid, dan jejaring menteri dengan kontrol penuh Jokowi, mendorong ambisi Gibran.
Poros istana baru, di bawah Prabowo, mencoba menegakkan legitimasi melalui SOB dan otoritas kepresidenan.
Di tengahnya, Listyo Sigit Prabowo berperan sebagai faktor ketidakpastian. Polisi di bawah kendalinya tidak sepenuhnya berpihak ke Prabowo, tetapi juga tidak frontal melawan oligarki lama. Ambiguitas ini dimanfaatkan kedua kubu: bagi ancient régime, kepolisian bisa dijadikan tameng; bagi Prabowo, mereka tetap alat represi.
Ambisi Gibran: Dinasti dan Keuntungan Ancien Régime
Anak mami yang mengemas dirinya sebagai anak gaul dan sok populis namun sejatinya representasi politik jahat rezim lama adalah Gibran Rakabuming Raka. Sebagai Wakil Presiden, ia adalah pewaris langsung dinasti Jokowi. Ambisinya menjadi Presiden adalah proyek sistematis, bukan sekadar dorongan pribadi.
Jika Gibran naik menjadi Presiden, ancient régime akan memperoleh keuntungan besar:
Dinasti Jokowi mengakar dalam sistem politik.
Konsesi migas dan tambang oligarki aman, termasuk kepentingan Riza Chalid.
Skandal korupsi kabinet Jokowi terkubur.
Rezim lama tampil dengan wajah baru, muda, dan populis, tetapi tetap busuk di dalam.
Jalan Ekonomi Prabowo: Mengusung Ide Lama. Membunuh Pengaruh Lama.
Prabowo mencoba keluar dari jejaring lama dan membangun otoritas sebagai Presiden baru. Kebijakan ekonominya mulai bergeser: IKN ditangguhkan, food estate dalam “pengawasan” ketat, hilirisasi mineral dengan dikontrol penuh profesional?”semua adalah proyek mercusuar yang justru menguntungkan para pemain baru.


















































































































Komentar Terbaru