UPDATE

OPINI
OPINI

Kudeta & SOB yang Gagal: Pertarungan Maut Penghuni Istana Menunggangi Aksi Demo 25 -28 Agustus

Oleh: Firman Tendry Masengi**

MENUJU aksi 25 Agustus jejaring aktivis saling kopi darat, japri bertukar info. Agenda tanggal 25 siapa yang bermain? Dan, tak satupun mampu menjawab pertanyaan diatas.

“Siapa yang bermain?”

Juga berseliweran di banyak platform media interaksi publik ajakan aksi demonstrasi dengan tagar “98 Reborn” yang sangat mengganggu.

Dan diputuskan jejaring mahasiswa dan aktivis 98, buruh untuk tidak terlibat namun tetap mendukung gerakan kritis dan korektif atas jalannya pemerintahan dan situasi kenegaraan yang tegang.

Kepenatan rakyat banyak atas “siksaan negara” meningkat menjadi kemarahan.

Dan, ketika rakyat marah tanpa tujuan kami yakin sepenuhnya, tak akan ada perubahan, yang pasti terjadi adalah kerusakan.

Dan analisa kawan-kawan gerakan 98, aksi demonstrasi 25 Agustus akan di pakai oligarki jahat untuk  bertarung dengan kekuatan Presiden Prabowo.

Di titik ini, kami sadar sepenuhnya aksi demonstrasi ini akan dimanfaatkan oleh kedua pihak untuk mendorong agenda masing-masing. Memperkuat Kudeta atau pemberlakuan SOB (Staat van Oorlog en Beleg).

Republik di Meja Perjudian

Gerakan 25?”28 Agustus 2025 menandai babak baru dalam sejarah Politik Indonesia. Ia bukan sekadar rentetan demonstrasi, melainkan sebuah pertarungan kekuasaan senyap yang melibatkan rakyat marah, oligarki jahat, aparat ambigu, dan Presiden yang ingin berdiri tegak tapi terjebak dalam “hutang budi” pada jejaring  lama.

Dalam upayanya melepaskan belenggu rejim lama, “orang-orang”  Prabowo  menbayangkan SOB (Staat van Oorlog en Beleg) muncul sebagai jalan kontroversial untuk melepaskan diri. SOB menjadi instrumen revolusi hukum atau sekadar alat represi .

Kemarahan massa, korupsi warisan rezim Jokowi, ambisi Gibran untuk mewarisi kursi kepresidenan, perang intelijen antar-faksi, dan sikap aparat yang tak pernah benar-benar netral memperlihatkan bahwa Indonesia berada di tepi jurang krisis kebangsaan.

Luka Sepuluh Tahun: Kemarahan Massa pada Aparat

Gerakan ini tidak lahir di ruang hampa. Ia adalah akumulasi dari sepuluh tahun luka di bawah pemerintahan Jokowi. Kepolisian, alih-alih menjadi pengayom, berubah menjadi simbol represi: pembubaran paksa aksi, kriminalisasi mahasiswa, dan praktik korupsi yang merajalela.

Namun, di tubuh kepolisian sendiri, ambiguitas terjalin kuat. Kapolri Listyo Sigit Prabowo mencoba memainkan posisi ganda: di satu sisi berusaha loyal  kepada Presiden Prabowo, di sisi lain masih menjaga kedekatan dengan jejaring Jokowi yang membesarkan kariernya. Sikap ambigu ini menimbulkan krisis kepercayaan, baik di internal aparat maupun di mata rakyat.

Oligarki Jahat dan Kapitalis Birokrat: Dalang Kudeta Senyap

Dalam kemarahan massa, oligarki jahat dan kapitalis birokrat memainkan perannya. Mereka adalah elite yang menguasai tambang, perkebunan, migas, perbankan, hingga kursi birokrasi.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.