Sayangnya, gagasan ini belum menjadi opini umum mayoritas umat Islam.
Banyak yang masih terbuai dengan ilusi solusi dari dunia Barat: negosiasi, perundingan damai, atau resolusi PBB.
Padahal, semua jalur itu telah terbukti puluhan tahun gagal total.
Islam Menawarkan Solusi
Allah SWT berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 39)
Ayat ini menegaskan bahwa jihad adalah jalan untuk menghentikan penindasan dan penjajahan. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum Muslimin berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggarisbawahi pentingnya adanya kepemimpinan Islam (Khilafah) yang akan menggerakkan jihad sebagai solusi hakiki membebaskan tanah kaum Muslim.
Dalam sejarah Islam, pembebasan tanah umat dari penjajahan bukanlah sesuatu yang mustahil.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, pasukan Islam berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan Romawi.
Kemudian, pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, Palestina berhasil dibebaskan dari cengkeraman pasukan salib melalui jihad yang dipimpin negara.
Fakta sejarah ini adalah bukti konkret bahwa solusi syar’i benar-benar mampu menghentikan penjajahan.
Umat Harus Melek dan Bersatu
Hari ini, tragedi di Gaza seharusnya membuka mata kaum Muslimin. Tidak ada alasan untuk terus percaya pada solusi palsu yang ditawarkan dunia Barat.
Ketika dua milyar kaum Muslimin bersatu di bawah kepemimpinan yang benar, kekuatan itu akan menjadi tsunami yang mustahil dibendung oleh Zionis maupun sekutunya.
Kesadaran ini harus terus digemakan. Edukasi masif tentang kewajiban umat membela Palestina melalui solusi syar’i harus menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri Muslim.
Umat tidak boleh puas dengan narasi kemanusiaan semata, tetapi harus kembali pada narasi akidah dan jihad. Sebab, Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi isu akidah dan kewajiban syar’i.
Saat ini, umat Islam di seluruh dunia harus bertanya kepada diri sendiri: sampai kapan kita hanya menjadi penonton penderitaan saudara-saudara kita di Gaza?
Sampai kapan kita membiarkan air mata anak-anak Palestina mengalir tanpa ada pertolongan nyata?
Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh, bila satu bagian sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya? (HR. Muslim).
Apakah kita rela tubuh umat ini terus terluka sementara kita masih sibuk dengan urusan remeh?































































































Beri Komentar