Menurut badan pangan dunia ini, akses pangan sehat negara berpendapatan tinggi USD 4,22 per hari. Untuk Indonesia akses pangan sehat ini harganya USD 4,75 per hari, jelas lebih mahal. Terkonfirmasi juga melalui BPS yang melaporkan bahwa kekurangan gizi mencapai 8,27 persen. Tapi diakui bahwa produktivitas petani meningkat menjadi 6,355 ton/ha.
Sampai pada titik itu berarti CBP menunjukkan ketahanan pangan menuju kemandirian. Apalagi CBP 5 juta ton itu sama dengan ketersediaan pangan terjamin hingga 11 bulan ke depan sepanjang El Nino Godzilla, perubahan iklim, dan perang AMIS vs Iran terantisipasi. Maka beras yang sudah menjadi kancah perpolitikan sejak Soeharto berkuasa 1966 hingga saat ini, membuat rakyat Indonesia tidak takut kekurangan beras. Masyarakat tidak cemas, inilah politik beras, politik perut. Apalagi ketersediaan itu bukan dari impor.
Tapi masyarakat kelas lain berhadapan dengan masalah nilai tukar, harga BBM yang melambung, harga listrik yang membuat subsidi APBN naik dan pembangkit listrik swasta tersenyum. Kondisi ini yang membuat Bogi diselamatkan Amran, walau belum tentu selamat di sektor atau kasus lain. Bogi boleh sedikit tenang, karena rakyat tidak cemas akan ketersediaan beras. Bogi tinggal negosiasi, siapa lagi kelompok yang diakomodasi.
Bogi juga harus berpikir bagaimana pihak asing tidak menunggangi kelemahan internal. Nah, pada tahap dan kondisi ini, Bogi harus bercermin diri apakah mereka telah sungguh-sungguh memegang sumpah jabatan dan menjalankan amanat kekuasaan sesuai dengan UUD 1945, merujuk aspirasi masyarakat luas dan meningkatkan legitimasi publik.
Bogi wajib membuktikan bahwa tudingan miring dan bersifat personal adalah salah. Tapi jika sebaliknya, CBP yang cukup tidak berguna. Harga kepercayaan publik sangat lebih mahal daripada HET beras. Silakan pilih, melanjutkan krisis kepercayaan publik, amburadul dan pembangkangan sosial, atau segera berbenah diri bahwa memang ada yang salah dan sangat membutuhkan segera diperbaiki. Ini kesempatan Bogi. Jika tidak, siapapun yang menghianati Pembukaan UUD 1945, semangat kejuangan dan nilai-nilai perjuangan pendiri republik, akhir kekuasaannya akan Tehran. Waktu telah dan akan selalu memberikan buktinya.
*(Penulis adalah Pengamat Politik ekonomi )


















































































































Komentar Terbaru