Bersamaan dengan dogma dan doktrin itu dipropagandakan Washington, AS mengalami kekalahan perang dagang pada 2008, melemah dalam perang nilai tukar sejak 2011, dan tersudut dalam perang teknologi sejak peristiwa Black Monday 2015. AS dan kalangan intelektualnya bungkam saat menyaksikan kapitalisme korporasi (korporasi swasta) kalah melawan kapitalisme negara (BUMN). Mereka membangun berbagai cara untuk bangkit dan menyeimbangkan peranan. Maka doktrin Eisenhower berlaku, yakni perang untuk damai, damai untuk perang yang berlanjut dengan perang untuk keuntungan ekonomi, keuntungan ekonomi untuk perang. GW Bush, Barack H Obama, Joe Biden, dan Donald J Trump melakukannya untuk menahan laju penurunan posisi AS sebagai adidaya global.
Sebagai bagian dari upaya itu adalah pandemi Covid-19 dan vaksinnya. Demikian juga dengan pandemi yang akan datang setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) berhasil mengamandemen Regulasi Kesehatan Internasional. Yakni setiap negara anggota tidak dapat menolak jika WHO menyatakan pandemi.
Patut dicatat, saat pandemi 2020-2022 hanya dua sektor yang menikmati keuntungan, yakni sektor Kesehatan dan sektor TIK. Sektor lain bukan bertahan, bahkan mengalami defisit. Kondisi itu teruraikan dalam artikel bertajuk Corona dan Perang Ekonomi pada 20 Januari 2020 di berbagai media on line.
Tapi kemenangan korporasi AS mendikte dunia saat itu tidak cukup. Rusia dan China tetap bertahan, bahkan ikut menikmati keuntungan. Maka terjadi perang militer dengan dampak yang lebih luas. Dalam buku Prahara Bangsa (Jakarta, Des 2024) hal itu terlukis dengan tema Kudeta Korporasi di Balik Pandemi.
Di sana terurai bahwa dunia sebenarnya hanya dikuasai segelintir orang yang mengendalikan industri keuangan, industri militer, industri teknologi, dan industri kesehatan. Sejak 2008 berkali-kali hal tersebut disampaikan di hadapan para pejabat negara dan dalam pelbagai forum seminar dan diskusi.
Intinya, siapapun pemimpin suatu negara yang sistem, kebijakan dan regulasinya, standarisasi jasa dan barang publik, akuntabilitas negaranya, dan penetapan reputasi tokoh-tokohnya terkait dalam prinsip ekonomi terbuka, sistem politik liberal, dan sistem sosialnya menjunjung tinggi individualism, maka negara tersebut tertundukkan tanpa harus menggunakan senjata. Artinya arena krisis 5F akan selalu menjadi senjata penguasa global itu. Itulah yang saya sampaikan pada pertemuan terbatas di jalan Kertanegara No.4 Jakarta Selatan sekitar 2022.
Karena perang Ukraina, diinvasinya Venezuela, dan diserangnya Iran merupakan konsistensi dalam lingkup strategi menegakkan krisis 5F bagi negara yang bersangkutan. Dampak berantai pun tak terhindarkan walau terkadang di luar jangkauan perhitungan. AS dan Israel tidak mengalkulasi Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata. Efek dominonya adalah perekonomian dunia terpukul, negara demokrasi AS pun dikotbahi raja Inggris bahwa kekuasaan eksekutif ada batasnya dan agama berpihak kepada etika dan kemanusiaan.


















































































































Komentar Terbaru