UPDATE

Salam.life
OPINI
OPINI

Dolar Kabur, Mafia Makmur

“Coba kamu pelajari,” perintahnya ke Purbaya. Maka Menteri Keuangan ini pun bergerak. Ia tidak memakai ilmu sihir ekonomi tingkat dewa, tidak juga memanggil detektif dari serial Netflix. Ia cuma membuka data ekspor, mencocokkan harga dari Indonesia dengan data impor negara tujuan.

Ia menelusuri jalur kapal, melihat perusahaan perantara di Singapura dan British Virgin Islands, lalu membandingkan angka demi angka. Kerja penelusuran seperti itu sudah biasa dilakukannya di beberapa lembaga, sebelum ini. Sesederhana itu.

Bahkan anak SD yang baru belajar hitung-hitungan untung rugi warung mungkin bisa paham kalau barang dijual Rp1.000 di sini lalu tercatat Rp4.400 di sana, ada sesuatu yang lebih ajaib daripada sulap badut ulang tahun.

Data itu sebetulnya sudah ada selama 34 tahun, tersimpan rapi seperti bangkai yang sengaja ditaruh di lemari dan pura-pura dianggap parfum ruangan. Bedanya, kali ini ada orang yang punya nyali membukanya, dengan dukungan penuh dari atasannya.

Atas titah Prabowo, Purbaya seperti mengambil pisau analisa lalu membedah tubuh ekspor Indonesia yang selama ini tampak sehat di luar tetapi diduga bocor di organ dalamnya. Termasuk di lembaga pajak yang berada di bawah kewenangannya menangani.

Ia yakin, sebagaimana diyakinkannya ke Presiden, kalau kebocoran pajak dan devisa ini ditutup, serta ekspor benar-benar masuk satu pintu melalui DSI mulai Juni nanti, rupiah bisa kembali punya tenaga menghadapi dolar.

Sebab selama ini yang membuat rupiah megap-megap bukan semata pasar global, tapi mungkin karena terlalu banyak dolar hasil bumi Indonesia yang diam-diam memilih pensiun dini di rekening luar negeri.

Namun, di sinilah drama republik mulai terasa seperti serial politik Turki bercampur sinetron keluarga. Karena nama-nama besar mulai bertebaran. Konglomerat sawit. Raja tambang. Penguasa ekspor.

Dan publik, seperti biasa, pun otomatis melirik lingkaran kekuasaan paling dekat. Ada hubungan keluarga. Ada jejaring bisnis. Ada irisan kepentingan. Maka pertanyaan rakyat pun sederhana: apakah sapu itu akan menyapu sampai ruang keluarga sendiri?

Di sinilah sejarah selalu menguji manusia. Nabi Nuh alaihissalam dulu pernah memanggil anaknya ketika banjir dahsyat datang. Naluri ayah bekerja. Tapi Allah SWT menjawab dengan kalimat yang sangat keras secara ideologis: “Sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu.”

Bukan karena darahnya berubah. Tapi karena keberpihakannya berubah. Pesan langit itu sangat dalam. Bahwa dalam urusan kebenaran, hubungan darah tidak boleh menjadi payung kebal hukum. Sebab ketika negara dikalahkan oleh loyalitas keluarga, yang lahir bukan pemerintahan, melainkan kerajaan.

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.