Platform digital memperparah kondisi ini. Algoritma media sosial sengaja dirancang untuk menciptakan FOMO (Fear of Missing Out). Sebuah penelitian Universitas Indonesia menemukan bahwa pengguna Instagram 3x lebih mungkin melakukan pembelian impulsif setelah melihat konten influencer.
Yang lebih berbahaya, kapitalisme telah mendefinisikan ulang makna kebahagiaan. Survei Katadata (2023) membuktikan paradoks menyedihkan: 65% pengguna paylater merasa stres karena utang, tapi 70% mengaku akan menggunakannya lagi – inilah kecanduan konsumtif yang difasilitasi sistem!
Dalam perspektif Islam, ini adalah bentuk modern dari israf (pemborosan) yang jelas dilarang:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
Lebih parah lagi, sistem ini mendorong riba – sesuatu yang jelas haram dalam Islam. Allah SWT berfirman:
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).
Dengan dalih “kemudahan”, paylater justru menjerumuskan masyarakat ke dalam dosa dan kesengsaraan.
Islam: Solusi Fundamental, Bukan Sekadar Tempelan
Berbeda dengan kapitalisme yang mengorbankan rakyat untuk keuntungan segelintir orang, sistem Islam menawarkan solusi menyeluruh yang bersumber dari wahyu.
a. Mekanisme Ekonomi Syariah yang Adil
– Pelarangan riba secara tegas: Tidak ada ruang untuk paylater berbunga atau praktik ribawi lainnya.
– Zakat & Baitul Mal: Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat melalui distribusi kekayaan yang adil. Pada masa Umar bin Abdul Aziz, zakat mampu mengentaskan kemiskinan hanya dalam 2 tahun.
– Pengaturan harga (hisbah): Negara turun tangan aktif ketika harga kebutuhan pokok melambung, sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW saat krisis harga di Madinah.
– Larangan penimbunan (ihtikar): Islam mengharamkan praktik monopoli yang membuat harga melambung.
b. Membangun Mentalitas Takwa, Bukan Konsumerisme
Islam mengajarkan konsep qana’ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak tergila-gila pada dunia). Rasulullah SAW bersabda:
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam negara Khilafah, pendidikan dan media akan membentuk kesadaran masyarakat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketakwaan, bukan kepemilikan materi.
c. Khilafah: Penjaga Sistem, Bukan Eksploitasi
Dalam Khilafah, negara aktif mencegah praktik riba dan memutus rantai konsumerisme. Rasulullah SAW bersabda:
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak peduli lagi apakah harta yang didapat halal atau haram.” (HR. Bukhari).


















































































































Komentar Terbaru