UPDATE

OPINI
OPINI

Akankah Prabowo Bernasib Sama dengan Soeharto?

Menyempitkan Ruang Politik Transaksional

Pertarungan melawan kekuatan oligarki bukanlah retorika di atas panggung kampanye, melainkan kalkulasi politik yang dingin. Rumus untuk selamat dari kutukan sejarah sangat jelas: ikat loyalitas militer pada konstitusi, dan ikat hati rakyat pada kesejahteraan yang nyata.

Ketika militer solid di belakang presiden sebagai panglima tertinggi, dan rakyat merasakan keadilan ekonomi di dalam rumah mereka, maka ruang gerak politik transaksional dari kekuatan modal besar dengan sendirinya akan menyempit. Prabowo tidak akan bernasib seperti Soeharto selama ia menolak mendengarkan para pemodal, dan memilih untuk terus mendengarkan jeritan rakyatnya.

“Too Big To Fail”: Taktik Manipulatif Prabowo Subianto dan Jokowi

Mahkamah Konstitusi menilai salah proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) memakai anggaran pendidikan. Tapi, masih memberi kelonggaran kepada pemerintah untuk melanggar konstitusi hingga 2028. Mengapa begitu?

MK dan mungkin kita semua sudah terperangkap dalam permainan manipulatif Presiden Prabowo: program MBG terlalu besar untuk dihentikan seketika, karena memiliki konsekuensi yang sangat luas.

Presiden Prabowo sebenarnya meniru taktik Jokowi ketika meluncurkan proyek-proyek populisnya. Taktik seperti apa? Bikin proyek itu sebesar atau sekolosal mungkin, sehingga sulit dihentikan di tengah jalan. Orang akan berpikir keras untuk menghentikannya meski ada banyak kekurangan atau menjadi ajang korupsi. Orang pasti akan menimbang bagaimana dengan dana besar yang sudah dikeluarkan, apa tidak mubazir kalau tidak dihentikan?

Prabowo menerapkan itu dalam proyek MBG dan Koperasi Desa Merah-Putih (KDMP), dua proyek berskala kolosal yang menghabiskan anggaran yang kolosal pula.

Di masa Jokowi, taktik ini sukses dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kereta api cepat “whoosh”. Anggarannya sangat besar sehingga sulit dihentikan di tengah jalan. Taktik seperti ini juga diterapkan oleh Jokowi dalam konteks lain. 

Masih ingat kata-kata Presiden Jokowi kepada Menteri Nadiem Makarim agar memperbanyak anggaran riset? “Anggarannya diperbesar…. (agar) presiden yang akan datang pasti mau tidak mau (akan) melanjutkan. Presiden yang akan datang (enggak akan berani) motong (anggaran itu). Enggak berani,” kata Jokowi dalam video rekaman pidatonya di forum Temu Tahunan Forum Rektor Indonesia pada 15 Januari 2024.

Intinya, buat skala yang cukup besar untuk fait accompli. Orang akan berpikir terlalu sayang untuk dihentikan atau dianggap gagal, no matter what, karena ukurannya yang besar. Too big to fail.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.