Pada akhirnya, Skenario Sang Jenderal menunjukkan bahwa publik Indonesia tidak mudah lupa. Mereka mungkin menerima putusan pengadilan, tetapi tetap menyimpan pertanyaan tentang bagaimana kebenaran nyaris dikubur. Layar streaming menjadi tempat pertanyaan itu disuarakan kembali, lengkap dengan arsip dan kesaksian.
Karena itu, tugas kita bersama adalah menjaga agar ingatan ini menjadi energi perbaikan, bukan sekadar bahan tontonan. Polri perlu memperkuat pengawasan internal dan keterbukaan informasi. Media lokal perlu terus menggarap liputan mendalam, dan publik perlu menonton dengan kritis. Jika ketiganya berjalan, ruang sidang rakyat di layar digital akan mendorong keadilan, bukan menggantikannya.(*)































































































Beri Komentar