Penulis: DR. Syahganda Nainggolan**
MUHAIMIN Iskandar telah menyatakan perang terhadap intoleransi ekonomi pada kampanyenya di Bali kemarin. Di hari sebelumnya, Muhaimin Iskandar menyatakan hal yang serupa bahwa dia tidak takut dengan Boy Thohir yang mengklaim konglomerat akan mendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024.
Muhaimin yakin bahwa Indonesia akan berhasil dalam perjuangan menegakkan keadilan dengan ideologi perjuangan yang sosialistik.
Pernyataan Muhaimin tentang kejahatan terbesar adalah intoleransi ekonomi telah menjadi pernyataan ideologis terpenting dalam pergolakan perjuangan yang perlu kita pahami. Hal ini bertolak belakang dengan Saifullah Yusuf, tokoh NU, yang mengembuskan intoleransi identitas beberapa hari lalu, yakni musuh bangsa kita adalah Amien Rais dan Abu Bakar Baasyir.
Dalam teori pemberontakan, tantangan dan isu perubahan struktural, khususnya kepemilikan dan keadilan rakyat, merupakan tantangan terbesar. Sukarno dan Mohammad Hatta, misalnya, mengalami penyiksaan berkali-kali dari kolonial Belanda, karena mereka menentang Belanda dengan isu intoleransi ekonomi.
Dahulu intoleransi ekonomi diusung Sukarno, Hatta, dan pejuang kemerdekaan lainnya sebagai tema perjuangan, karena Indonesia dalam pemerintahan “Nederlands Indie” selama penjajahan 350 tahun di Indonesia, telah dikuasai segelintir orang-orang Belanda, yang mana mereka mengatur seluruh penduduk pribumi saat itu.
Tentu ada tokoh-tokoh bangsa lainnya ketika itu masih banyak yang tersesat dengan isu-isu mazhab agama. Umumnya mereka dibina oleh Van Der Plas dan Snouck Hurgronje dan lain-lain yang merupakan kaki tangan Belanda.
Sejak 17 orang Belanda (the heeren zeventien/gentlemen of seventeen) membentuk Vereniging Oostindische Compagnie (VOC) di Amsterdam lalu menduduki Indonesia tahun 1602, struktur perekonomian Indonesia jatuh ke tangan segelintir orang-orang Belanda.
Orang-orang Belanda ini alias VOC, dalam pledoi Bung Karno “Indonesia Menggugat”, 1930, dikatakan mengalokasikan sepertiga kekayaannya untuk Indonesia. Atau dengan kata lain, sepertiga perekonomian Indonesia dihasilkan segelintir orang itu.
Sepertiga dari hasil eksploitasi sumber daya lainnya diberikan kepada investor atau perusahaan, serta sepertiga lainnya untuk membangun negara Belanda. Kekayaan VOC jika dikonversi uang sekarang adalah 7,9 triliun dolar AS alias perusahaan terkaya di bumi sejak bumi ini ada.
Kembalinya isu intoleransi ekonomi sebagai isu terbesar saat ini, karena Muhaimin Iskandar tidak bisa menerima kenyataan adanya segelintir orang-orang, yang dinyatakan Thohir, telah menguasai sepertiga perekonomian Bangsa Indonesia.

















































































































Komentar Terbaru